PEKANBARU - Dunia lingkungan hidup di Riau kembali bergemuruh. Pakar lingkungan sekaligus pejuang ekologis terkemuka, Dr. Elviriadi, dijadwalkan meluncurkan sekaligus membedah karya literatur terbarunya bertajuk “Dari Tanah Jantan Membela Hutan (Setengah Abad Perjuangan Ekologis Dr. Elviriadi)” pada Jumat, 22 Mei 2026.
Acara bergengsi tersebut akan digelar di Gedung Perpustakaan dan Arsip, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.
Momentum ini diprediksi menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan gerakan lingkungan hidup di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau yang selama puluhan tahun bergulat dengan persoalan deforestasi, kebakaran hutan dan lahan, serta ekspansi korporasi yang menggerus ruang hidup masyarakat.
Lebih istimewa lagi, peluncuran buku edisi khusus tersebut dikabarkan akan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat.

Kehadiran Menteri LH dinilai sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjang Dr. Elviriadi yang tanpa lelah menyuarakan penyelamatan lingkungan dari bumi lancang kuning.
Buku “Dari Tanah Jantan Membela Hutan” bukan sekadar karya tulis biasa. Buku ini merekam jejak panjang perjuangan ekologis Dr. Elviriadi selama setengah abad mulai dari advokasi penyelamatan hutan, kritik terhadap praktik eksploitasi alam, hingga pembelaannya terhadap masyarakat adat dan kelompok rentan yang terdampak kerusakan lingkungan.
Dalam setiap lembarannya, pembaca akan disuguhkan realitas keras tentang konflik ekologis, ketimpangan pengelolaan sumber daya alam, serta keberanian seorang akademisi yang memilih berdiri di garis perjuangan ketimbang menikmati kenyamanan kekuasaan maupun fasilitas korporasi.
Dr. Elviriadi sendiri dikenal luas sebagai sosok yang konsisten menjaga integritas perjuangan. Hal itu tercermin dari kutipan tajam yang terpampang di sampul bukunya:
“Lebih Baik Makan Nasi Dengan Garam, Daripada Menerima ‘Oleh-Oleh’ Korporasi Hitam.”
Kalimat tersebut menjadi simbol perlawanan moral terhadap praktik-praktik yang dianggap merusak lingkungan demi kepentingan ekonomi sesaat. Sikap tegas itu pula yang membuat nama Dr. Elviriadi dihormati banyak kalangan aktivis, akademisi, hingga masyarakat akar rumput.
Peluncuran dan bedah buku ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni intelektual semata, tetapi juga menjadi alarm kesadaran bagi publik tentang pentingnya menjaga kelestarian alam di tengah derasnya arus eksploitasi sumber daya.
Selain itu, karya ini diyakini dapat menjadi referensi penting bagi generasi muda, pegiat lingkungan, mahasiswa, hingga para pengambil kebijakan agar tidak kehilangan arah dalam memperjuangkan masa depan bumi yang lebih lestari.
Di tengah kondisi lingkungan yang terus menghadapi ancaman serius, kehadiran buku ini menjadi pengingat bahwa perjuangan menjaga hutan dan alam bukan sekadar tugas aktivis, melainkan tanggung jawab bersama demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. (Rin)