Fakta-fakta Longsor Cisarua yang Menimbun Tiga Kampung

Fakta-fakta Longsor Cisarua yang Menimbun Tiga Kampung
Tim SAR gabungan dibantu dengan alat berat melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Januari 2026. Antara/Abdan Syakura

MimbarRiau.com - GERAKAN tanah atau longsor menimbun tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.30 WIB, yaitu Kampung Pasirkuning RT 05/RW 11, Kampung Pasirkuda RT 01/RW 10, dan Kampung Babakan Cibudah RT 06/RW 07. Longsor masih berpotensi terjadi dari pergerakan tanah dan aliran bahan rombakan susulan.

 “Kejadian serupa dapat terjadi di lereng dan lembah yang berada di kaki Gunung Burangrang karena memiliki karakteristik morfologi dan geologi sama,” kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam laporan hasil pemeriksaan longsor Cisarua, Selasa, 3 Februari 2026.

Kemiringan lereng curam

Secara morfologi, lokasi bencana berada di pegunungan vulkanik berelief sedang hingga kuat. Kemiringan lereng bagian atas mahkota longsor terhitung curam hingga lebih dari 35 derajat. Beberapa lokasi lereng sangat curam hingga lebih dari 55 derajat, sementara lereng bagian tengah dan bawah agak curam antara 8–16 derajat. Morfologi lereng Burangrang itu hasil proses vulkanisme masa lalu yang kemudian mengalami proses eksogen, sepertipelapukan, erosi, dan denudasi yang intensif. Terlihat bentukan morfologi bekas longsoran lama pada bagian lereng tengah dan bawah di beberapa lokasi.

Endapan gunung api tua

Kondisi Burangrang secara geologi merupakan endapan gunung api tua tidak terpisahkan, yang terdiri dari breksi vulkanik, tuf, lava andesit–basalt, serta material piroklastik lapuk. Sebagai gunung api tipe strato, hasil pelapukan endapan piroklastik tingkat lanjut menghasilkan tanah yang relatif tebal dan menyebabkan tanah menjadi gembur, urai, dan mudah lepas.

Kerentanan longsor menengah

Lereng atas gunung didominasi vegetasi tanaman keras pinus, dan pada lereng bagian tengah berupa kebun serta ladang campuran warga. Tanaman budi daya yang mendekati aliran sungai didominasi sayuran seperti selada, cabai, dan tomat. Sebelum bencana, masyarakat menggunakan air yang berasal dari mata air di sekitar lembah dengan membuat kolam penampungan air.Kerentanan gerakan tanah di lokasi bencana tergolong kriteria menengah. Tipe gerakan tanah di Desa Pasirlangu berupa longsoran pada bagian hulu dan berkembang menjadi aliran bahan rombakan (debris flow) yang terdiri dari tanah, lumpur, kayu, dan batu dengan ukuran 1-3 meter. 

Gawir mahkota longsor di lereng curam

Gawir mahkota longsor berada di ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut pada lereng yang sangat curam. Tinggi gawir mahkota longsor sekitar 80 meter selebar 40–60 meter. Sedangkan lebar tanah yang bergerak di lereng bagian tengah sekitar 100 meter. Total panjang aliran longsor mencapai 3,5 kilometer dengan luasan area yang terdampak sekitar 26 hektare. Aliran utama longsor mengarah ke barat, dan menyimpang juga ke selatan.

Menurut Lana, longsor disebabkan beberapa faktor, yaitu kemiringan lereng Burangrang yang agak hingga sangat curam, dan kondisi geologi berupa material vulkanik endapan gunung api tua yang tebal. Kemudian tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, serta erosi tinggi pada jalur sungai. “Curah hujan yang tinggi lebih dari 220 milimeter per hari dari data BMKG menjadi pemicu tanah untuk bergerak,” katanya.

Interpretasi tingginya erosi menunjukkan sedikitnya terjadi 2–3 kali suplai material ke arah lokasi bencana. Dari simulasi model, longsor dari atas Burangrang terjadi selama 1.500 detik atau 20–25 menit hingga mencapai daerah landaan. 

Badan Geologi merekomendasikan beberapa hal, antara lain pemukiman yang berada di zona bahaya, terlanda longsor, dan rumahnya rusak berat agar dipindahkan ke tempat aman. Permukiman yang berada di zona terancam masih dapat dipertimbangkan untuk ditempati kembali dengan langkah mitigasi struktural. “Tidak beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu di lereng atas atau yang berasal dari jalur longsoran,” ujar Lana.

Perkuatan lereng atau tanggul beserta drainasenya perlu diperkuat pada area penyimpangan aliran untuk mencegah erosi sungai, limpasan material debris, dan banjir lumpur pada pemukiman. Kemudian normalisasi sungai dan pembuatan drainase serta sabo untuk pengendalian tingkat erosi air dan tanah serta pengendalian aliran sungai.

Selain itu, melakukan penanaman kembali vegetasi berakar kuat dan dalam untuk meningkatkan daya ikat tanah dan mencegah erosi. Juga pemantauan longsoran pada lereng dan jalur air pada lembah-lembah lain, dan pemasangan rambu rawan longsor pada wilayah yang berpotensi terjadi gerakan tanah serta pembuatan jalur evakuasi ke lokasi aman.

Sementara itu, hingga hari ke-11, Selasa, 3 Februari 2026, pukul 16.30 WIB, akumulasi dari hasil operasi tim gabungan SAR, yaitu total temuan korban longsor sebanyak 85 kantong jenazah. Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) hingga pukul 16.00 WIB, sebanyak 66 korban telah teridentifikasi.

Berita Lainnya

Index