Geo Dipa Dapat PMN Rp1,3 T untuk Bangun Pembangkit Panas Bumi

Geo Dipa Dapat PMN Rp1,3 T untuk Bangun Pembangkit Panas Bumi

Bogor - PT Geo Dipa Energi (Persero) mendapat penyertaan modal negara (PMN) sekitar Rp1,3 triliun dari APBN untuk mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis mengatakan PMN tersebut digunakan sebagai ekuitas perusahaan untuk mendampingi pinjaman dari Asian Development Bank (ADB) dalam membiayai proyek yang sedang dalam tahap konstruksi.

"Untuk proyek yang hari ini yang sedang konstruksi, kami dapat PMN dari pemerintah dari APBN nilainya sekitar Rp1,3 triliun, itu sebagai equity untuk pendampingan pinjaman dari ADB," ujar Yudistian dalam media gathering, Jumat (2/10).

Ia menjelaskan PMN diperlukan sebagai porsi ekuitas ketika perusahaan memperoleh pinjaman untuk membiayai proyek.

"Kalau kita pinjam, kita harus ada duit sendiri kan, nah duit sendiri itu diberikan oleh pemerintah dalam bentuk PMN untuk menjadi pendamping dana dari EDB," terang Yudistian.

Namun, Yudistian mengatakan Geo Dipa ke depan tidak akan hanya mengandalkan pendanaan dari APBN.

Pemerintah tengah menyiapkan skema agar dana yang dikelola Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembiayaan sektor energi.

"Hari ini sebetulnya di Kementerian Keuangan sedang disiapkan juga pendanaan-pendanaan yang bisa dilakukan jadi tidak harus melulu yang sekarang dikelola sama SMV," ujarnya.

Menurut Yudistian, skema tersebut nantinya memungkinkan dana yang dihimpun dan dikelola SMV digunakan untuk pembiayaan tertentu, dengan tetap memperhitungkan biaya pendanaan atau cost of debt.

"Pemerintah rencananya sedang menyiapkan satu aturan lagi, pendanaan-pendanaan atau dana-dana yang dihimpun dan dipegang oleh SMV itu juga boleh dimanfaatkan dan pasti ada biayanya nanti atau cost of debt-nya," jelasnya.

Dengan skema tersebut, ia mengatakan APBN dapat lebih difokuskan untuk pembiayaan infrastruktur sosial dan kebutuhan publik lainnya, sementara proyek seperti pengembangan energi dapat memanfaatkan sumber pendanaan dengan skema yang lebih komersial.

Selain PMN dan pembiayaan melalui SMV, Geo Dipa juga menyiapkan skema creative financing melalui penerbitan obligasi (bond).

Yudistian mengatakan rencana penerbitan bond tersebut telah masuk dalam rencana jangka panjang perusahaan. Skema itu dinilai berbeda dengan IPO karena tidak mengubah kepemilikan perusahaan.

"Salah satu karena dibilang mulai mencari creative financing, salah satu yang kita siapkan adalah bond yang mau kita lepas," katanya.

"Kalau bond itu kan hanya nilai tertentu yang kita mau lepas dan pengelolaan perusahaan masih di dalam kita," sambung Yudistian.

Ia membandingkan rencana tersebut dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang memperoleh pendanaan melalui IPO.

Dengan bond, Geo Dipa tetap mempertahankan pengelolaan perusahaan, tetapi memiliki kewajiban membayar kupon kepada pemegang obligasi.

"Kalau PGE itu yang dilakukan IPO, IPO sehingga hampir 30 persen saham PGE itu dimiliki private sehingga akhirnya private punya pengaruh di sana. Tapi kalau bond seperti yang sudah terjadi banyak kayak PLN, dia terbitkannya bond, jadi dia punya kewajiban untuk menyertakan kuponnya nanti," jelasnya.

Yudistian mengatakan Geo Dipa masih mengkaji waktu dan nilai penerbitan bond tersebut. Rencana itu ditargetkan mulai dikaji untuk pelaksanaan tahun depan.

"Nah, mungkin di tahun depan kita lagi menyiapkan kajiannya kapan bond itu, bond-nya kapan dan berapa secara yang ditawarkan untuk menjadi sumber pendanaan untuk equity," ujarnya.

Dengan demikian, Yudistian menyebut terdapat tiga jalur pendanaan yang disiapkan Geo Dipa untuk mendukung ekspansi perusahaan, yakni PMN dari APBN, pembiayaan melalui SMV, serta creative financing berupa penerbitan bond. ***

Berita Lainnya

Index