Hambatan Sebenarnya Bangunan Hijau di Indonesia

Hambatan Sebenarnya Bangunan Hijau di Indonesia
Ilustrasi perumahan vertikal. ANTARA

MimbarRiau.com - PENERAPAN konsep bangunan hijau atau green building di Indonesia sering terhambat oleh persepsi mengenai biaya yang tinggi. Pandangan tersebut keliru karena perkembangan teknologi telah membuat harga dari material hemat energi semakin terjangkau.

Country Managing Director Global Buildings Performance Network (GBPN), Farida Lasida Adji, menjelaskan bahwa strategi efisiensi energi terletak pada konsep awal yang dalam alokasi anggarannya harus dirancang secara cerdas. Contohnya dalam struktur biaya konstruksi, sekitar 70 persen anggaran dialokasikan untuk arsitektur dan mekanikal elektrikal yang sifatnya fleksibel. 

Dalam hal ini, perancang bisa memilih untuk mengurangi kemewahan material estetika seperti marmer di lobi, dan mengalihkan dana tersebut untuk kaca performa tinggi yang mampu menahan panas. “Hambatannya sekarang bukan soal mahal atau murah, tapi para praktisi konstruksi yang enggan ke luar dari zona nyaman,” kata Farida di Green Press Community 2026, Minahasa Utara, Sabtu, 7 Februari 2026.

Farida menilai, banyak arsitek dan konsultan teknik yang masih mengandalkan perhitungan kasar atau rule of thumb daripada melakukan simulasi energi yang presisi saat merancang bangunan. Akibatnya, potensi penghematan energi sering terlewatkan sejak tahap desain, padahal fase ini sangat krusial dalam menentukan kinerja bangunan jangka panjang.

Selain itu, kesalahan dalam desain awal memiliki dampak fatal karena inefisiensi energi akan terkunci selama masa hidup bangunan tersebut yang bisa mencapai 40 hingga 50 tahun. "Sekali kita melakukan pemborosan, dampak kerugiannya akan panjang pada bangunan. Kalau ingin dikonsep ulang harus dirobohkan dulu baru dibangun lagi,” ujar Farida.

Farida membeberkan salah satu konsep bangunan hijau yang ramah lingkungan itu. Kata dia, bangunan hijau bukan hanya soal rimbun dan banyak tumbuhan, melainkan adalah konstruksi yang tidak memiliki sumber emisi besar. Dengan semakin kecil emisi, artinya penggunaan energi di dalam bangunan itu lebih ramah lingkungan.

Parameter teknis seperti Overall Thermal Transfer Value (OTTV) harus menjadi acuan utama untuk mengukur seberapa besar panas yang masuk ke dalam ruangan. Semakin rendah nilai OTTV, semakin ringan beban kerja sistem pendingin udara. Pada akhirnya menekan biaya operasional listrik secara signifikan. 

Tapi, kata Farida, belakangan ini banyak desain bangunan yang justru lebih mengutamakan estetika semata dengan pemasangan kaca penuh, tanpa memperhitungkan transmisi panas yang ekstrem. Padahal biaya untuk estetika ini lebih mahal dibanding membangun interior dengan jalur sirkulasi udara yang lancar.

Ia mengingatkan, konsep green building juga berkaitan dengan penggunaan perangkat elektronik yang lebih ramah energi. Saat ini sudah banyak toko perabotan yang menyediakan perangkat itu dan hanya menunggu konsumen untuk membelinya saja. “Dengan mulai menggunakan perangkat ramah lingkungan, ini menjadi salah satu cara menuju bangunan hijau,” ujarnya.

Berita Lainnya

Index