Muhajirin Siringoringo Ragukan Kredibilitas Sutrisno, Oknum Wartawan Diduga Arogan

Muhajirin Siringoringo Ragukan Kredibilitas Sutrisno, Oknum Wartawan Diduga Arogan
Sutrisno

ROKAN HILIR – Tokoh muda rohil, Muhajirin Siringoringo, melontarkan kritik pedas terhadap kredibilitas Sutrisno, yang menjabat sebagai Kepala Biro (Kabiro) Rokan Hilir untuk portal berita Celotehriau.com. 

Muhajirin menilai tindakan dan sikap Sutrisno jauh dari nilai-nilai profesionalisme jurnalistik dan justru terkesan seperti "preman jalanan".

Persoalan ini bermula saat Sutrisno memuat pemberitaan terkait pencabutan laporan dugaan ijazah palsu Bupati Rohil yang dilakukan oleh Muhajirin. Menurut Muhajirin, berita tersebut tidak benar dan diterbitkan tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu kepadanya selaku narasumber utama.

"Saya heran, saya tidak mengenal dia (Sutrisno), saya tidak pernah cabut laporan tapi dia kerap menyerang saya baik lewat tulisan di medianya maupun di media sosial Facebook. Saat saya hubungi untuk menggunakan Hak Jawab, dia justru menolak," ujar Muhajirin.

Alih-alih mengakomodasi Hak Jawab sesuai amanat UU Pers No. 40 Tahun 1999, Sutrisno justru merespons dengan nada arogan. Ia menantang Muhajirin untuk melaporkan kasus tersebut ke Dewan Pers jika merasa keberatan.

Hal yang paling disayangkan Muhajirin adalah sikap tidak terpuji oknum wartawan tersebut yang justru menantangnya berkelahi secara fisik.

"Dia dengan arogan menantang saya adu jotos. bahkan sangat jumawa menyuruh saya untuk bertanya di bagan api siapa Bung Sutrisno. Sebagai orang yang juga pernah bergelut di dunia pers, saya merasa ini sangat tidak profesional. Wartawan itu bekerja dengan pena, bukan otot," tegasnya.

Menanggapi tantangan tersebut, Muhajirin menyatakan tidak gentar. "Saya tidak takut kalau harus adu jotos. Kalau itu bisa buat dia puas, ayo, tapi saya minta secara resmi di atas ring tinju, bukan di jalanan," tambahnya.

Muhajirin juga menyoroti pemberitaan terbaru dari Sutrisno yang dinilai provokatif dan berpotensi memecah belah sesama insan pers. 

Sutrisno disebut memuat narasi bahwa media-media yang menerbitkan klarifikasi Kabag Umum Setda Rohil, Samsuri, adalah media "bayaran".

"Wartawan kok menulis begitu? Ini sangat tidak elok. Terkesan memprovokasi sesama rekan media. Harusnya sesama jurnalis saling menghargai tupoksi masing-masing," kata Muhajirin.

Melalui pernyataan ini, Muhajirin berharap jajaran Pimpinan Redaksi Celotehriau.com dapat mengevaluasi dan membimbing Sutrisno agar memahami kode etik jurnalistik yang sebenarnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat atau pejabat publik agar lebih berhati-hati saat bersinggungan dengan narasumber atau oknum yang mengatasnamakan wartawan namun tidak mengedepankan etika.

"Jangan sampai marwah profesi jurnalis rusak karena ulah oknum yang merasa hebat dan bertindak semena-mena," pungkasnya. **

Berita Lainnya

Index