Potensi 435 Ribu Hektare Kelapa di Inhil Jadi Modal Penguatan Hilirisasi Kuala Selat

Potensi 435 Ribu Hektare Kelapa di Inhil Jadi Modal Penguatan Hilirisasi Kuala Selat
Foto ilustrasi (Akal Imitasi) Gemini

INHIL - Potensi perkebunan kelapa yang membentang lebih dari 435 ribu hektare di Kabupaten Indragiri Hilir menjadi salah satu modal penting untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir, khususnya di Desa Kuala Selat. Besarnya produksi kelapa yang mencapai sekitar enam juta butir per hari dinilai perlu diikuti dengan pengembangan industri pengolahan agar komoditas unggulan tersebut tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat di daerah asalnya.

Upaya memperkuat hilirisasi kelapa tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi Dukungan Penataan Desa Kuala Selat bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia secara virtual di Ruang Rapat Sekretaris Daerah Kantor Gubernur Riau, Selasa (8/9/2026). Pemerintah daerah mendorong agar komoditas kelapa dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah sehingga manfaat ekonominya lebih banyak dirasakan masyarakat setempat.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Indragiri Hilir, Herman, menjelaskan bahwa kelapa menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat di wilayahnya dengan potensi produksi yang sangat besar. Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk mendorong pembangunan industri pengolahan kelapa yang lebih dekat dengan sentra produksi.

"Di Indragiri Hilir terdapat lebih dari 435 ribu hektare kebun kelapa dengan produksi kurang lebih enam juta butir per hari. Potensi sebesar ini seharusnya tidak hanya dikirim keluar daerah dalam bentuk kelapa bulat, tetapi perlu didorong masuk ke proses hilirisasi agar nilai tambahnya kembali kepada masyarakat," ujarnya.

Herman mengatakan produk turunan kelapa dapat dikembangkan dalam berbagai skala sesuai dengan kemampuan dan potensi daerah. Selain menghasilkan minyak dan produk pangan, limbah kelapa juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk pupuk maupun pengembangan energi.

"Kita berharap program hilirisasi dapat dimulai dari skala yang sesuai dengan kemampuan daerah, termasuk pengolahan menjadi minyak goreng dan produk lainnya. Sabut dan limbah kelapa juga jangan sampai terbuang, karena dapat dimanfaatkan menjadi pupuk maupun bahan untuk pengembangan bioenergi," katanya.

Sementara itu Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menyampaikan bahwa pengembangan potensi ekonomi lokal perlu menjadi bagian dari penataan desa secara menyeluruh. Menurutnya, penguatan komoditas unggulan akan memberikan dampak lebih besar apabila didukung infrastruktur, akses pembiayaan, serta keterlibatan berbagai kementerian.

"Penataan desa tidak hanya berbicara mengenai pembangunan fisik, tetapi juga bagaimana potensi ekonomi masyarakat dapat dikembangkan. Karena itu, seluruh usulan yang berkaitan dengan kelapa, infrastruktur, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan ekonomi perlu kita konsolidasikan agar dapat memperoleh dukungan program dari pemerintah pusat," jelasnya.

Ia menilai hilirisasi kelapa dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ekonomi masyarakat pesisir sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penjualan bahan mentah. Pengembangan tersebut juga perlu disinergikan dengan program pemberdayaan masyarakat dan pembangunan koperasi agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas.

"Kita ingin potensi kelapa yang besar ini memberikan nilai tambah di daerah asalnya. Dengan dukungan program pemerintah dan penguatan koperasi sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat, kita berharap pengembangan kelapa dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kuala Selat," tutupnya. ***

Berita Lainnya

Index