MimbarRiau.com - Penghargaan Detik Sumatera Award 2026 kategori Pendorong Tata Kelola Sumber Daya Alam Berkelanjutan yang diterima Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, M.Si, tidak membuat langkahnya berhenti di panggung penghargaan.
Usai menerima apresiasi tersebut, Afni memilih segera kembali ke Siak di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih menjadi pekerjaan rumah. Masih banyak tanggung jawab yang harus dikawal.
"Terima kasih Detik. Saya hanya kebagian tugas sebagai pelayan rakyat mengambil Detik Sumatera Award 2026, karena anugerah ini adalah milik mereka yang terus berjuang hingga ke tingkat tapak memanfaatkan dan menjaga sumber daya alam yang masih tersisa," ungkap Afni, Sabtu, (29/8/2026).
Bupati perempuan pertama di Siak itu mengatakan, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi. Apresiasi itu menjadi pengingat bahwa kerja menjaga sumber daya alam merupakan tanggung jawab bersama, terutama bagi mereka yang berada langsung di lapangan.
Karena itu Afni menyuarakan di panggung nasional bahwa pengelolaan sumber daya alam tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan untuk kepentingan generasi sekarang. Ada tanggung jawab yang lebih panjang, yakni memastikan sumber daya alam tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
"Ini kan kategorinya berkaitan dengan sumber daya alam berkelanjutan. Menjadi suatu komitmen bahwa sumber daya alam tidak bisa hanya kita eksplorasi saja, tetapi harus kita pikirkan bahwa sumber daya alam ini juga harus dinikmati secara berkelanjutan sampai ke anak cucu kita," ujarnya.
Mantan wartawan itu mengingatkan agar pembangunan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek. Apa yang dilakukan hari ini, jangan sampai mengorbankan hak generasi mendatang untuk mendapatkan lingkungan yang baik dan sumber daya alam yang masih tersedia.
"Apa yang kita lakukan saat ini jangan hanya egois kita nikmati untuk generasi saat ini. Ini juga harus bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti," tegasnya.
Bagi Afni, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan administratif pemerintahan. Prinsip tersebut sebagai keadilan ekologis, yakni cara pandang bahwa pembangunan harus mempertimbangkan keberlangsungan seluruh ekosistem, bukan hanya kepentingan manusia.
"Karena itu saya selalu menyuarakan tentang keadilan ekologis. Keadilan ekologis bukan tentang kita saja, manusia, tetapi juga tentang seluruh hal yang ada di sekitar kita, termasuk lingkungan," kata Afni lagi.
Komitmen itu kemudian berhadapan langsung dengan persoalan di lapangan. Saat sebagian orang mungkin melihat penghargaan sebagai kesempatan untuk menikmati seremoni, Afni justru mengatakan dirinya harus segera kembali karena pekerjaan di daerah masih menanti.
"Hari ini langsung pulang karena PR pekerjaan masih banyak, masih harus mengawal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)," ujarnya.
Karhutla menjadi salah satu ujian nyata terhadap komitmen tata kelola sumber daya alam berkelanjutan yang selama ini disuarakan Afni. Sebab, ketika hutan dan lahan terbakar, dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga menyentuh kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Karena itu, Afni menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam penanganan Karhutla di Siak.
"Terima kasih atas kolaborasi semua pihak, dan mohon selalu doanya untuk Siak," katanya.
Penghargaan Detik Sumatera Award 2026 pun akhirnya tidak dimaknai Afni sebagai akhir dari sebuah perjuangan. Justru, penghargaan tersebut ia tempatkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja bersama sekaligus pengingat bahwa menjaga alam merupakan pekerjaan yang tidak selesai hanya dengan satu seremoni. **

