HANGZHOU, CHINA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin cepat memasuki berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Perubahan ini menjadi perhatian serius delegasi Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) yang mengikuti rangkaian Worlddidac Asia 2026 di Hangzhou, China.
Forum pendidikan internasional tersebut mempertemukan akademisi, lembaga pendidikan, pengembang teknologi, serta pelaku industri pendidikan untuk melihat perkembangan terbaru teknologi pembelajaran dan arah pendidikan masa depan.
Delegasi Indonesia hadir dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Universitas Lancang Kuning (Unilak).
Dari UMJ hadir Prof. Evi Satispi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, bersama sejumlah akademisi lainnya. Sementara dari Universitas Lancang Kuning hadir Prof. Adolf Bastian, yang juga merupakan Ketua PGRI Provinsi Riau.
AI Sudah Masuk ke Dunia Sekolah
Prof. Adolf mengatakan perkembangan teknologi yang terlihat dalam kegiatan Worlddidac Asia memberikan gambaran bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan.
Menurutnya, AI sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak dan akan semakin memengaruhi cara mereka belajar, bekerja dan berkomunikasi.
“Sekolah Indonesia harus mulai bersiap. AI bukan lagi sesuatu yang akan datang, tetapi sudah hadir di tengah kehidupan peserta didik. Kalau sekolah tidak beradaptasi, ada kesenjangan antara apa yang dialami anak di luar sekolah dengan apa yang mereka dapatkan di ruang kelas,” ujar Prof. Adolf.
Menurutnya, kesiapan sekolah menghadapi AI tidak cukup hanya dengan menyediakan komputer atau jaringan internet.
Yang jauh lebih penting adalah menyiapkan guru dan peserta didik agar memiliki kemampuan menggunakan AI secara cerdas, kritis dan bertanggung jawab.
Guru Tetap Menjadi Kunci
Sebagai Ketua PGRI Riau, Prof. Adolf menekankan bahwa perkembangan AI tidak boleh dipahami sebagai ancaman terhadap profesi guru.
Sebaliknya, AI harus ditempatkan sebagai alat yang membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran.
“AI dapat membantu guru menyiapkan bahan ajar, mencari referensi, membuat variasi pembelajaran, melakukan analisis kebutuhan siswa dan mengembangkan pembelajaran yang lebih personal. Tetapi AI tidak memiliki keteladanan dan sentuhan kemanusiaan seperti seorang guru,” katanya.
Karena itu, menurut Prof. Adolf, peningkatan kompetensi guru menjadi agenda penting dalam menghadapi transformasi pendidikan.
Guru tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga harus memahami etika penggunaan AI, validitas informasi, keamanan data, plagiarisme dan bagaimana menjaga kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Jangan Sampai Anak Pintar Menggunakan AI, tetapi Malas Berpikir
Prof. Adolf juga memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan AI oleh peserta didik.
Menurutnya, kemudahan memperoleh jawaban melalui teknologi harus diimbangi dengan kemampuan berpikir.
“Jangan sampai kita menghasilkan anak yang sangat pintar menggunakan AI, tetapi kehilangan kemampuan berpikir. Anak tetap harus belajar bertanya, menganalisis, berdiskusi, berargumentasi dan menghasilkan gagasan sendiri,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong sekolah mulai mengembangkan AI literacy atau literasi AI sebagai bagian dari pendidikan di Indonesia.
Literasi tersebut tidak hanya mengajarkan bagaimana menggunakan aplikasi AI, tetapi juga bagaimana memeriksa kebenaran informasi, memahami keterbatasan AI, menjaga etika dan menggunakan teknologi untuk menghasilkan karya yang orisinal.
Prof. Evi: Teknologi Harus Diikuti Kolaborasi
Sementara itu, Prof. Evi Satispi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta melihat Worlddidac Asia 2026 sebagai momentum penting bagi perguruan tinggi Indonesia untuk memperluas kerja sama internasional.
Menurutnya, perkembangan teknologi pendidikan yang ditampilkan di Hangzhou memberikan banyak inspirasi bagi Indonesia.
“Kita melihat bahwa teknologi pendidikan berkembang sangat cepat. Tantangannya bagi Indonesia adalah bagaimana kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu membangun kolaborasi dan mengembangkan inovasi sesuai kebutuhan pendidikan kita,” ujar Prof. Evi.
Ia mengatakan kerja sama pendidikan Indonesia-China dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, seperti pertukaran mahasiswa dan dosen, penelitian bersama, seminar internasional, pengembangan teknologi pembelajaran serta program akademik bersama.
Menurut Prof. Evi, kolaborasi internasional menjadi semakin penting karena perubahan teknologi pendidikan berlangsung sangat cepat dan membutuhkan pertukaran pengalaman antarnegara.
Jajaki Kerja Sama dengan Zhejiang University
Selain mengikuti Worlddidac Asia 2026, delegasi Indonesia juga melakukan pertemuan dengan School of Public Affairs, Zhejiang University.
Dalam pertemuan tersebut dibahas sejumlah peluang kerja sama, antara lain dual degree, student exchange, joint seminar and conference, serta penelitian bersama di bidang teknologi, e-government dan ilmu sosial-politik.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan akademik Indonesia-China dan membuka peluang bagi perguruan tinggi Indonesia untuk membangun kerja sama yang lebih konkret.
PGRI Riau Dorong Transformasi Sampai ke Ruang Kelas
Prof. Adolf menilai transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada perguruan tinggi atau kota-kota besar.
Perubahan tersebut harus dirasakan sampai ke sekolah dan ruang kelas, termasuk sekolah-sekolah di daerah.
“Kita ingin guru di Riau dan seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memahami dan memanfaatkan teknologi AI. Jangan sampai perkembangan teknologi justru memperlebar kesenjangan pendidikan antara sekolah yang memiliki akses teknologi dengan sekolah yang masih terbatas,” ujarnya.
Karena itu, menurut Prof. Adolf, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, PGRI, sekolah dan dunia industri untuk memperkuat infrastruktur digital sekaligus meningkatkan kompetensi guru.
Membangun Pendidikan yang Tetap Humanis
Kehadiran delegasi Indonesia di Hangzhou akhirnya membawa satu isu penting: bagaimana pendidikan Indonesia beradaptasi dengan AI tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Teknologi dapat membantu mempercepat proses belajar, menyediakan sumber pengetahuan yang luas dan membuka berbagai kemungkinan baru. Namun, pendidikan tetap membutuhkan guru sebagai pendidik, pembimbing dan pembentuk karakter.
“Masa depan pendidikan bukan manusia melawan mesin. Masa depan pendidikan adalah manusia yang mampu menggunakan mesin secara bijak untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan pembelajaran,” kata Prof. Adolf.
Dari Hangzhou, para akademisi Indonesia tidak hanya melihat perkembangan teknologi pendidikan dunia. Mereka juga membawa pesan bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi era AI dengan memperkuat guru, meningkatkan literasi digital, memperluas kolaborasi dan memastikan teknologi benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Hangzhou menjadi tempat melihat masa depan. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia mempersiapkan sekolah dan guru agar mampu menghadapi masa depan tersebut. *

