Dari Persaudaraan Menuju Kepedulian, PARHARI Riau Kukuhkan Lima Pengurus Daerah

Dari Persaudaraan Menuju Kepedulian, PARHARI Riau Kukuhkan Lima Pengurus Daerah

PEKANBARU - Parsadaan Hasibuan Riau (PARHARI) mengukuhkan pengurus lima kabupaten/kota sekaligus memperingati Milad ke-2 PARHARI Provinsi Riau. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula PTPN V Pekanbaru, Minggu (27/9/2026).

Lima kepengurusan yang dikukuhkan masing-masing berasal dari Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Kampar, dan Kabupaten Bengkalis.

Ketua PARHARI Provinsi Riau, Dr. H. Kalayo Hasibuan, M.Ed-TESOL, mengatakan pengukuhan tersebut tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat persatuan dan meneguhkan persaudaraan keluarga besar Hasibuan.

“Pengukuhan bukan sekadar pergantian atau penetapan struktur organisasi. Ia adalah peneguhan amanah,” kata Kalayo dalam materinya.

Menurutnya, semakin luas kepengurusan PARHARI di berbagai wilayah Riau, semakin besar pula kesempatan untuk membangun komunikasi, mempererat silaturahmi, saling membantu, serta menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi anggota dan masyarakat.

Dalam prosesi tersebut, Bendera Pataka PARHARI juga diserahkan kepada masing-masing ketua pengurus kabupaten/kota. Pataka tersebut disebut bukan hanya sebagai simbol organisasi, tetapi juga membawa pesan mengenai identitas, kehormatan dan amanah yang harus dijaga bersama.

PARHARI Jadi Rumah Bersama

Kalayo juga menekankan pentingnya keterlibatan lintas generasi dalam tubuh PARHARI. Menurutnya, organisasi harus menjadi rumah bersama bagi para orang tua, sesepuh, generasi muda hingga seluruh keluarga besar Hasibuan.

Ia menilai generasi muda perlu memahami sejarah, tarombo, bahasa, adat, seni serta nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari identitas Hasibuan.

“Identitas tanpa pemahaman akan mudah kehilangan makna,” ujarnya.

Dalam kegiatan Milad ke-2 tersebut, seni budaya seperti Gordang Sembilan dan Tari Tortor turut ditampilkan. Kehadiran budaya tersebut dinilai menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak cukup hanya ditampilkan dalam acara adat, tetapi harus dipahami, dipraktikkan, didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain itu, nilai Dalihan Na Tolu seperti Hormat Marmora, Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru juga disebut memiliki relevansi dalam membangun hubungan sosial dan komunikasi organisasi.

Persaudaraan Harus Berbuah Kepedulian

Dalam kegiatan tersebut turut hadir sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi, di antaranya Dr. Zuhdi Harahap dari PKS Tabagsel, Kepala Bidang Ideologi Kesbangpol Kota Pekanbaru Andrico Septian, S.STP yang mewakili Wali Kota-Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ketua DPP ASPEKNAS Provinsi Riau H. Aswendi, SE, Ketua IKMP Dr. Safarin Nasution, S.Pd.I, M.A, serta manajemen PT Bank Sumut Pekanbaru.

Kalayo mengatakan kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa organisasi masyarakat tidak berdiri sendiri. PARHARI, menurutnya, berada di tengah masyarakat sehingga hubungan dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan berbagai elemen lainnya perlu terus dibangun.

“Persaudaraan yang kita bangun di internal keluarga besar Hasibuan pada akhirnya harus mampu melahirkan kepedulian yang lebih luas kepada lingkungan sosial,” katanya.

Ia juga menyoroti keberadaan stand UMKM dalam rangkaian Milad ke-2 PARHARI. Menurutnya, kegiatan organisasi dapat menjadi ruang untuk menghubungkan silaturahmi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dua Tahun PARHARI, Saatnya Evaluasi

Pemotongan nasi tumpeng menjadi salah satu rangkaian peringatan Milad ke-2 PARHARI. Namun, Kalayo menegaskan bahwa usia dua tahun bukan sekadar angka, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi.

“Apa yang sudah kita lakukan? Apa yang masih perlu kita perbaiki? Dan warisan apa yang ingin kita tinggalkan kepada generasi berikutnya?” demikian pertanyaan yang disampaikannya.

Ia menambahkan, persatuan tidak berarti seluruh keluarga besar Hasibuan harus memiliki pandangan, profesi maupun latar belakang yang sama.

Perbedaan wilayah dan latar belakang justru diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan dengan semangat marsihaholongan, marsitolongan, dan marsihargaan—saling mengasihi, saling menolong dan saling menghargai.

Kalayo berharap PARHARI ke depan semakin mampu menjaga akar budaya sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda dan mendorong potensi anggota.

“Hasibuan bersatu, persaudaraan semakin kuat. Adat terjaga, budaya tetap melekat. Hasibuan Kuat, Hasibuan Hebat,” pungkasnya. **

Berita Lainnya

Index