Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berpeluang kembali tertekan hingga menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan.

Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi melihat sentimen dari kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) serta ketidakpastian kebijakan di Negeri Paman Sam masih membayangi pergerakan rupiah.

“Gonjang-ganjing geopolitik, gonjang-ganjing kebijakan perpolitikan di Amerika, gonjang-ganjing kebijakan Bank Central America yang diintervensi oleh Trump, ada kemungkinan besar rupiah ini akan kembali di atas Rp 18.000," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (20/9).

Ibrahim menjelaskan, pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Menurutnya, terdapat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir tahun. Namun, di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mendorong agar suku bunga dapat diturunkan secara signifikan ke depan.

“Walaupun kemarin Bank Sentral Amerika dari 18 deputi, 16 menginginkan menaikkan suku bunga dan menaikkan suku bunga 25 basis point, ada harapan bahwa dalam pertemuan sampai akhir Desember akan menaikkan suku bunga lagi 25 basis point,” jelasnya.

Ibrahim menilai perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan suku bunga tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi itu berpotensi memengaruhi pergerakan aset-aset keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

“Trump menginginkan bahwa saat ini boleh menaikkan suku bunga tetapi ke depan menurunkan suku bunga di atas 100 basis point,” ujarnya.

Selain kebijakan moneter AS, Ibrahim melihat investor juga masih mencermati perkembangan geopolitik global. Ketidakpastian tersebut mendorong sebagian pelaku pasar kembali mengalihkan dana ke aset lindung nilai seperti emas.

“Ketegangan terbaru antara Kevin Walsh dengan Trump ini membuat pasar sedikit gelisah kembali melakukan pembelian terhadap logam mulia,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pasar valuta asing. Penguatan harga emas di tengah ketidakpastian global mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.

“Ya, menaikkan suku bunga seharusnya direspons negatif oleh emas, tetapi karena ada intervensi dari Trump terhadap Kevin Walsh untuk menurunkan suku bunga lebih dari 100 basis point, ini mengindikasikan bahwa intervensi terjadi dan membuat harga emas kemarin mengalami kenaikan,” ungkapnya. ***

Berita Lainnya

Index