Mengapa Sejumlah Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan?

Mengapa Sejumlah Gunung Api Erupsi Hampir Bersamaan?

JAKARTA - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan erupsi sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan merupakan bagian dari dinamika tektonik di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire. Fenomena tersebut umumnya merupakan kebetulan spasial dan temporal.

“Karena Indonesia berada di kawasan sistem subduksi lempeng yang aktif dengan puluhan gunung api aktif yang berada dalam status Siaga atau Waspada,” katanya keterangan tertulis, Senin, 7 September 2026.

Sejumlah gunung api di Indonesia belakangan erupsi dalam waktu berdekatan. Pada Senin pagi, 7 September 2026, ada setidaknya tiga gunung api yang dilaporkan meletus. yakni Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu. Ketiganya berada di provinsi berbeda, masing-masing di Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, serta di Maluku Utara.

Beberapa hari sebelumnya, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda juga mengalami erupsi menerus pada 4-5 September 2026. Erupsi tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik.

Dengan status siaga atau level III sejak 2 Juli 2026, Anak Krakatau sempat erupsi lagi pada Ahad pagi pukul 07.10 WIB, 6 September 2026. Saat itu ada aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

Menurut Daryono, Indonesia terletak di zona konvergensi kompleks, tempat Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Meski keempat gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas pada waktu yang relatif berdekatan, Daryono memastikan tidak ada satu jaringan bawah tanah yang menghubungkan dapur magma antargunung.

“Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya,” tutur dia.

Alih-alih saling memicu letasan, beberapa gunung api aktif di Indonesia ditengarahi telah mencapai ambang batas kejenuhan gas dan magma pada periode waktu yang hampir bersamaan. Perbedaan ketinggian kolom abu pada masing-masing erupsi menunjukkan variasi dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, dan kandungan gas vulkanik.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang abu vulkaniknya mencapai Banten, Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu mengindikasikan tingginya volume material yang terlontar hingga lapisan troposfer tengah dan atas. Material tersebut dapat didistribusikan oleh sirkulasi angin regional, seperti angin monsun.

Adapun erupsi Gunung Semeru dengan kolom abu mencapai 1.000 meter, Gunung Ili Lewotolok 600 meter, dan Gunung Ibu 400 meter memiliki intensitas energi yang lebih terlokalisasi. Ketinggian kolom abu dipengaruhi kekuatan tekanan gas dalam saluran kawah atau conduit, serta gaya apung termal (thermal buoyancy) pada kolom erupsi ketika berinteraksi dengan massa udara di sekitarnya.

Daryono menjelaskan, karakter gelombang abu dan lontaran material juga dipengaruhi faktor fisika dan kimia vulkanologi, termasuk proporsi silika atau SiO2 dan komposisi volatil seperti H2O, CO2, dan SO2. Magma dengan viskositas tinggi dan kandungan gas yang melimpah cenderung menghasilkan erupsi eksplosif yang memecah magma menjadi partikel abu vulkanik halus berukuran submilimeter.

Partikel tersebut dapat terbawa lebih jauh mengikuti arah angin di troposfer. Adapun gunung api dengan magma yang lebih cair atau memiliki sistem saluran yang relatif terbuka (open-vent system) cenderung melepaskan tekanan gas secara berulang melalui kolom erupsi berskala menengah. Kondisi tersebut membuat dampak erupsi lebih terlokalisasi di sekitar area kawah utama. **

Berita Lainnya

Index