MimbarRiau.com - Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Imunisasi menggelar rapat koordinasi lintas sektor tingkat daerah 38 provinsi dalam rangka percepatan capaian imunisasi tahun 2026 secara virtual, Senin (31/8/26).
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr. Indri Yogyaswari, MARS mengatakan bahwa imunisasi merupakan salah satu pilar dan upaya strategi pemerintahan Indonesia dalam mencegah kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dan imunisasi (PD3I).
dr Indri mengungkapkan, imunisasi ini merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa dan menjadi bagian dari intervensi spesifik dalam program nasional dalam penurunan angka stunting.
"Anak yang tidak melakukan imunusasi lengkap itu akan lebih rentan terhadap infeksi berulang yang dapat mengganggu pertumbuhan perkembangannya menuju target yang optimal. Karena itu pemenuhan imunisasi ini harus menjadi perhatian kita semua," katanya.
Direktur Imunisasi Kemenkes melanjutkan, berdasarkan evaluasi bersama pada triwulan kedua tahun ini 2026, capaian indikator imunisasi masih berada di bawah target yang diharapkan.
Dia mengungkapkan, untuk indikator capaian imunisasi lengkap saat ini baru mencapai 43,2 persen dari target 85 persen 2026. Kemudian imunisasi baduta lengkap 39,6 persen dari target 75 persen.
Selanjutnya, imunisasi MR1 pada bayi masih 44,5 persen dari target 88 persen, sedangkan untuk imunisasi antigen baru ini masih berada pada angka 40,9 persen dari target 71 persen, serta status Imunisasi T2 pada Wanita Usia Subur (WUS) ini masih diangka 39,4 persen dari target 71 persen.
"Akan tetapi bapak ibu di balik angka-angka tersebut masih terdapat satu kondisi yang perlu kita waspadai bersama, masih perlu kita jadikan perhatian bersama yaitu masih tingginya jumlah anak dengan status zero dose," katanya.
dr. Indri menerangkan, definisi zero dose istilah untuk anak yang sama sekali belum pernah menerima satu pun dosis imunisasi rutin dasar, khususnya vaksin yang mengandung difteri, tetanus, dan pertusis (DPT) dosis pertama pada usia di bawah satu tahun.
Direktur Imunisasi Kemenkes menerangkan, anak-anak yang diharapkan bisa lebih kuat melawan berbagai virus, namun karena belum di imunisasi sehingga akan rentan terhadap penyakit-penyakit yang memang pada anak-anak di bawah satu tahun itu sangat banyak karena kemampuan imunnya masih sangat rendah dibandingkan dengan anak yang sudah berusia lebih tua.
Terang dia, tantangan saat ini adalah lebih banyaknya pada tantangan sosial yaitu adanya penolakan atau keraguan karena banyaknya miss informasi, mitos kemudian isu halal dan haram, kekhawatiran terhadap kejadian ikutan pasca imunisasi yang masih mempengaruhi keputusan sebagian orang tua atau penentu keputusan dalam keluarga untuk mengimunisasi anak-anak di dalam keluarganya.
"Tantangan ini tentu tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri, kami sangat membutuhkan komitmen kemudian juga kolaborasi dan pembagian peran yang jelas dari seluruh sektor yang terlibat dalam hal ini, baik kami di level pusat, kemudian pemerintah daerah, kemudian organisasi masyarakat, kemudian mitra pembangunan maupun seluruh pemangku kepentingan," tutupnya. **

