Jakarta - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan pemerintah telah membayarkan subsidi dan kompensasi sebesar Rp331,4 triliun kepada Pertamina dan PLN per 31 Agustus 2026.
“Tahun ini, APBN telah membayarkan Rp331,4 triliun kepada PLN dan Pertamina,” ujar Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi September 2026 di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat.
Suahasil menyampaikan bahwa realisasi tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan realisasi pembayaran subsidi dan kompensasi kepada Pertamina dan PLN pada Agustus 2025.
“Tahun lalu, sampai dengan akhir Agustus, yang sudah dibayarkan ke PLN dan Pertamina itu Rp218 triliun,” ucap Suahasil.
Dengan demikian, Suahasil menyoroti realisasi pembayaran kompensasi dan subsidi energi pada 2026 lebih tinggi sekitar Rp100 triliun apabila dibandingkan dengan tahun lalu.
Ia menjelaskan bahwa saat ini, pembayaran kompensasi dan subsidi kepada PLN dan Pertamina dilakukan secara bulanan.
“Ini tentu kami maksudkan supaya PLN dan Pertamina memiliki keleluasaan kas, supaya bisa terus menyediakan barang-barang yang memang harganya diatur oleh pemerintah, barang-barang yang harga bersubsidi,” ucap Suahasil.
Berdasarkan paparan yang ia sampaikan, realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Volatilitas harga minyak akibat dinamika geopolitik global disebut dapat meningkatkan realisasi subsidi energi.
Meskipun demikian, ia menegaskan Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi kondisi tersebut pada tahun 2022 saat pecahnya konflik Rusia-Ukraina.
Selain itu, realisasi subsidi dan kompensasi juga dipengaruhi oleh volume konsumsi BBM, LPG, dan listrik bersubsidi. Suahasil menyampaikan terdapat peningkatan konsumsi oleh masyarakat.
“Barang-barang yang mendapatkan subsidi harga itu terjadi peningkatan penggunaan oleh masyarakat. Volume BBM naik 8,8 persen, volume LPG naik 2,6 persen, pelanggan listrik untuk tarif bersubsidi naik 2,1 persen, volume pupuk naik 23 persen. Untuk debitur KUR, jumlah debiturnya naik 5,9 persen,” kata Suahasil.
Secara rinci, realisasi konsumsi volume BBM bersubsidi naik 8,8 persen, yakni dari 10,64 juta KL pada 2025 menjadi 11,58 juta KL pada 2026. Kemudian, volume konsumsi LPG 3 kg naik 2,6 persen dari 4,9 juta ton pada 2025 menjadi 5 juta ton pada 2026.
Volume konsumsi pupuk juga naik 23,4 persen dari 4,9 juta ton pada 2025 menjadi 6,1 juta ton pada 2026. ***

