Rohil - Setelah Ba'da Isya, suasana di tengah majelis Haul ke-80 Syekh Oesman Syahabuddin Alkholidy Naqsabandi perlahan berubah menjadi lebih hening. Di antara rapatnya barisan jamaah yang mengenakan peci dan busana putih, lantunan manaqib Tuan Guru Syekh Oesman Syahabuddin terdengar dengan ritme yang tenang dan khusyuk. Ustadz Ilham membacakan kisah perjalanan hidup sang ulama di hadapan para alim ulama dan jamaah yang memenuhi tempat kegiatan, sementara Ustadz Abdul Somad, para alim ulama, tokoh masyarakat serta Bupati dan Wakil Bupati tampak menyimak rangkaian pembacaan tersebut. Suara pembaca manaqib yang mendayu, menyerupai irama zikir dalam tradisi suluk, menghadirkan suasana sejarah seorang ulama dari masa lampau kembali dipertemukan dengan kehidupan umat pada hari ini.
Manaqib itu tidak sekadar menyusun kembali riwayat kehidupan seorang tokoh agama. Di dalamnya terdapat rekonstruksi ingatan masyarakat mengenai perjalanan seorang ulama yang menempatkan ilmu, adab, zikir, pengabdian dan ketaatan kepada guru sebagai fondasi kehidupan. Kisah Tuan Guru Syekh Oesman Syahabuddin menjadi bagian dari sejarah lisan perkembangan Islam di Tanah Putih dan Bagansiapiapi yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam tradisi masyarakat, manaqib memiliki kedudukan tersendiri karena tidak hanya menghadirkan nama dan peristiwa, tetapi juga menyampaikan nilai yang dianggap penting untuk diteladani. Karena itu, kisah Syekh Oesman tidak semata-mata dibaca sebagai biografi, melainkan sebagai narasi tentang bagaimana ilmu diperoleh, bagaimana seorang murid menjaga hubungan dengan gurunya, serta bagaimana ilmu tersebut kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk dakwah dan pembinaan umat.
Tuan Guru Syekh Oesman Syahabuddin,disebut berasal dari Tanah Putih, sebuah kawasan yang dalam perjalanan sejarahnya menjadi salah satu ruang penting perkembangan kehidupan sosial dan keagamaan di Rokan Hilir. Beliau lahir dari keluarga yang memiliki kedekatan dengan tradisi keilmuan Islam. Ayahnya dikenal sebagai Tuan Imam Ganda, yang dalam manaqib juga disebut Haji Muhammad atau Lebai.
Nama Oesman diberikan oleh sang ayah. Sejak usia muda, beliau telah diperkenalkan dengan pendidikan agama yang menjadi bagian dari kehidupan keluarga. Alquran menjadi salah satu sumber pembelajaran utama yang ditekuni sejak masa kanak-kanak. Membaca dan menghafal ayat-ayat suci tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas pendidikan, tetapi berkembang menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kehidupan spiritualnya.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut pada penguasaan ilmu agama yang lebih luas. Bagi Syekh Oesman, sebagaimana tergambar dalam manaqib, proses belajar tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan. Ilmu harus berjalan bersama adab, sedangkan adab menjadi fondasi bagi seorang murid dalam menerima keberkahan dari gurunya.
Prinsip itu tampak dalam perjalanan beliau ketika berguru kepada Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi. Hubungan antara guru dan murid dalam tradisi keilmuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap, kedisiplinan spiritual dan kepatuhan terhadap tuntunan guru.
Dalam manaqib disebutkan, Syekh Oesman dikenal menjaga adab kepada gurunya. Setiap amanah yang diberikan diterima dengan kepatuhan dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Dari proses pendidikan tersebut kemudian lahir kepercayaan yang lebih besar ketika beliau memperoleh ijazah dan diangkat sebagai khalifah.
Pengangkatan tersebut bukan sekadar simbol kedudukan keagamaan. Dalam tradisi tarekat dan keilmuan Islam, seorang khalifah menerima amanah untuk meneruskan ajaran, membimbing murid dan menjaga kesinambungan mata rantai keilmuan yang telah diterima dari gurunya.
Bagansiapiapi kemudian menjadi salah satu ruang utama pengabdian Syekh Oesman. Di tengah masyarakat, beliau membimbing umat, menyampaikan ajaran agama, mengembangkan tradisi zikir dan mengarahkan kehidupan keagamaan masyarakat.
Namun, perjalanan intelektual dan spiritualnya tidak berhenti di tanah kelahiran. Atas arahan gurunya, beliau kembali melakukan perjalanan untuk memperdalam ilmu. Makkah disebut dalam manaqib sebagai salah satu tujuan penting dalam perjalanan tersebut.
Di Tanah Suci, Syekh Oesman menjalani masa pendidikan yang panjang. Selama kurang lebih tujuh tahun, beliau disebut menuntut ilmu kepada sejumlah ulama, di antaranya Syekh Ali dan guru-guru lainnya. Masa tersebut menjadi fase penting dalam pembentukan kapasitas keilmuan dan spiritualnya.
Di tengah lingkungan keilmuan Makkah, beliau tidak hanya mengikuti pengajian, tetapi juga memperkuat praktik zikir dan ibadah. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pencarian ilmu bagi Syekh Oesman berlangsung melalui proses yang panjang, disiplin dan berkesinambungan.
Setelah menyelesaikan masa belajarnya, beliau kembali ke tanah kelahiran dengan membawa bekal ilmu sekaligus amanah dari para gurunya. Kepulangan tersebut menjadi titik penting karena ilmu yang diperoleh di pusat-pusat keilmuan Islam kemudian dibawa kembali untuk dibagikan kepada masyarakat di daerah asalnya.
Perjalanan dakwahnya juga membawa beliau hingga ke Batu Pahat, Malaysia. Di tempat tersebut, Syekh Oesman disebut tetap mengajarkan agama, mengembangkan zikir dan menyampaikan syiar Islam.
Menariknya, kehidupan beliau di tengah aktivitas dakwah tetap digambarkan sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, beliau berkebun dan berdagang. Kehidupan tersebut memperlihatkan corak pengabdian seorang ulama yang tidak menggantungkan seluruh kehidupannya pada kedudukan keagamaan, tetapi tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga melalui usaha sendiri.
Dalam manaqib disebutkan, Syekh Abdul Wahab Rokan kemudian memberikan amanah agar Syekh Oesman kembali ke Bagansiapiapi. Perintah tersebut diterima sebagai bentuk ketaatan seorang murid kepada gurunya. Ia meninggalkan Batu Pahat dan kembali ke wilayah tempat dakwahnya dibutuhkan.
Sekembalinya ke Bagansiapiapi, perjalanan pengabdian Syekh Oesman semakin erat dengan perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat. Ia juga disebut memiliki hubungan keilmuan dengan sejumlah ulama lainnya, termasuk Tuan Syekh Abdullah Hakim. Nasihat dan jaringan keilmuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang pembentukan tradisi Islam di kawasan ini.
Pada 1928, perjalanan hidup Syekh Oesman memasuki fase yang lebih formal dalam struktur pemerintahan keagamaan. Dalam manaqib disebutkan bahwa Sultan Siak Sri Indrapura memberikan kepercayaan kepada beliau untuk menjadi Imam Distrik Bagansiapiapi.
Kepercayaan tersebut dikaitkan dengan keluasan pengetahuan yang dimilikinya dalam bidang keislaman, termasuk tauhid, fikih dan tasawuf. Posisi tersebut menempatkan Syekh Oesman tidak hanya sebagai guru spiritual, tetapi juga sebagai salah satu figur penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Bagansiapiapi pada masa itu.
Di luar aktivitas mengajar dan membimbing umat, beliau juga disebut menghasilkan sejumlah tulisan dan kitab. Karya-karya tersebut kemudian menjadi bagian dari bahan pembelajaran bagi murid-muridnya. Dengan demikian, warisan intelektualnya tidak hanya berlangsung melalui tradisi lisan, tetapi juga melalui pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Namun, kedudukan sebagai Imam Distrik tidak mengubah corak kehidupan pribadi beliau yang sederhana. Syekh Oesman tetap dikenal berkebun dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu aspek yang terus ditekankan dalam kisah hidupnya.
Dalam konteks sejarah sosial keagamaan, kehidupan seperti itu memperlihatkan hubungan yang erat antara ulama dan masyarakat. Seorang guru agama tidak berdiri jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan berada di tengah masyarakat, bekerja, berinteraksi dan pada saat yang sama membimbing kehidupan spiritual umat.
Memasuki masa pergolakan pada 1946, situasi kawasan Bagansiapiapi berubah. Konflik dan peperangan menyebabkan ketidakstabilan serta menimbulkan korban jiwa. Dalam suasana tersebut, Syekh Oesman disebut ditangkap oleh kelompok pemberontak dalam perjalanan menuju Bagansiapiapi.
Kisah yang diwariskan dalam manaqib menyebutkan bahwa selama berada dalam perjalanan tersebut, beliau tetap melantunkan zikir. Kalimat tauhid “La ilaha illallah” disebut terus mengiringi perjalanan sebagai ekspresi keteguhan spiritual di tengah situasi yang penuh ancaman.
Bagian akhir kehidupan Syekh Oesman kemudian berkembang menjadi salah satu bagian paling kuat dalam tradisi lisan masyarakat. Manaqib menyebut adanya sejumlah upaya untuk mengakhiri hidup beliau yang tidak berhasil. Kisah tersebut kemudian diwariskan sebagai bagian dari cerita mengenai karamah seorang ulama.
Dalam penulisan sejarah, bagian tersebut penting ditempatkan sebagai tradisi lisan atau riwayat yang hidup di tengah masyarakat, karena tidak seluruh detailnya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah tertulis. Namun, secara kultural, kisah tersebut tetap memiliki arti penting dalam memahami bagaimana masyarakat mengenang figur Syekh Oesman dan memaknai keteguhan spiritualnya.
Pada akhirnya, Syekh Oesman Syahabuddin disebut wafat dalam rangkaian pergolakan tersebut. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, jasad beliau tidak ditemukan setelah dibuang ke laut. Peristiwa tersebut kemudian melahirkan berbagai kisah yang terus diceritakan oleh generasi tua kepada generasi berikutnya.
Salah satu riwayat bahkan menyebutkan kisah mengenai darah beliau yang berwarna putih, yang kemudian dikaitkan dengan gelar tertentu dalam tradisi masyarakat. Riwayat semacam ini merupakan bagian dari memori yang berkembang melalui tradisi tutur dan perlu dibaca dalam konteks kebudayaan masyarakat yang mewariskannya.
Ada pula kisah mengenai perubahan bentang alam di sekitar Bagansiapiapi setelah wafatnya beliau. Dalam cerita yang diwariskan, sekitar dua bulan kemudian air laut disebut mulai surut dan wilayah yang sebelumnya digenangi air perlahan berubah menjadi daratan.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana seorang tokoh agama dapat berkelindan dengan ingatan masyarakat terhadap perubahan lingkungan, sejarah kawasan dan pengalaman sosial pada zamannya. Di titik inilah manaqib tidak hanya berfungsi sebagai catatan kehidupan seorang ulama, tetapi juga menjadi bagian dari arsip ingatan masyarakat.
Hari ini, ketika nama Tuan Guru Syekh Oesman Syahabuddin kembali dibacakan di tengah majelis, yang hadir bukan sekadar sebuah cerita tentang masa lalu. Ada proses pewarisan nilai yang berlangsung secara bersamaan, dari guru kepada murid, dari orang tua kepada anak, dan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Ustadz Ilham yang membacakan manaqib dengan suara tenang dan penuh penghayatan menghadirkan kembali rangkaian perjalanan tersebut di hadapan jamaah. Di tengah suasana usai Ba'da Isya, pembacaan itu menjadi semacam jembatan antara sejarah dan ingatan; antara seorang ulama yang hidup pada masa lampau dengan masyarakat yang masih membaca, mendengar dan menghidupkan kembali warisan keagamaannya pada masa kini.
Kehadiran para alim ulama dan Ustadz Abdul Somad yang menyimak pembacaan manaqib semakin memberikan konteks bahwa tradisi mengenang ulama bukan semata aktivitas seremonial. Ia menjadi ruang untuk membaca kembali perjalanan ilmu dan dakwah, sekaligus memahami bagaimana sebuah masyarakat membangun identitas keagamaannya melalui tokoh-tokoh yang pernah memberikan pengaruh dalam perjalanan sejarah mereka.
"Saya hanya bisa ceramah, semoga saya bisa mengikuti jejak tuan syekh berjuang untuk agama," kata UAS usai mendengar Manaqib Syekh Oesman Syahabuddin.
Pada akhirnya, warisan terbesar Tuan Guru Syekh Oesman Syahabuddin tidak hanya terletak pada kisah tentang perjalanan hidupnya, tetapi pada gagasan yang terus berulang dalam manaqib: ilmu harus dicari dengan kesungguhan, diterima dengan adab, diamalkan dengan keikhlasan dan diwariskan untuk kemaslahatan umat.
Dari Tanah Putih, perjalanan itu bergerak melalui ruang-ruang keilmuan, menyeberangi batas wilayah hingga Makkah dan Batu Pahat, kemudian kembali ke Bagansiapiapi sebagai pusat pengabdian. Jejak tersebut menunjukkan bahwa sejarah seorang ulama pada akhirnya bukan hanya tentang kapan ia lahir dan kapan ia wafat, melainkan tentang bagaimana ilmu dan keteladanan yang ditinggalkannya terus menemukan tempat dalam ingatan masyarakat. ***

