Pertamina Ungkap Alasan Antrean Panjang BBM Subsidi Meningkat di Riau

Senin, 07 September 2026 | 19:28:50 WIB
Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya

RIAU - Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Provinsi Riau mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melakukan penyesuaian pasokan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi di tengah meningkatnya permintaan.

Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya, mengatakan peningkatan pasokan dilakukan sebagai respons terhadap perkembangan kebutuhan BBM di Riau. Menurutnya, kondisi antrean pada April 2026 masih relatif normal sebelum kemudian terjadi peningkatan kebutuhan pada bulan-bulan berikutnya.

"Kami perlu sampaikan bahwa kebutuhan daripada BBM ini sudah Pertamina tingkatkan. Kemudian, kita melihat bahwa posisi April 2026 itu kondisi antrean adalah normal dibandingkan dengan bulan-bulan setelah April itu ada peningkatan," kata Wilson di Jalan Sisingamangaraja Pekanbaru, Senin (07/09/2026).

Dijelaskan, pihaknya terus melakukan evaluasi terhadap kebutuhan BBM berdasarkan perkembangan konsumsi di lapangan. Penambahan pasokan tersebut menjadi langkah untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan bakar.

Wilson menyebutkan bahwa upaya tersebut dilakukan agar ketersediaan BBM di SPBU tetap terjaga seiring meningkatnya konsumsi pengendara.

"Posisi Agustus sampai September ini, Pertamina sudah menambah pasokan sampai 27% lebih tinggi daripada rata-rata di bulan April. Artinya bahwa kebutuhan ini naik," jelasnya.

Diungkapkan, peningkatan kebutuhan BBM tersebut tidak hanya disebabkan oleh bertambahnya konsumsi masyarakat. Ada pula perubahan pola penggunaan bahan bakar yang turut memengaruhi tingkat permintaan terhadap jenis bahan bakar tertentu.

"Penyebabnya itu adalah kenaikan kebutuhan dan ada juga yang terjadi migrasi yang tadinya menggunakan bahan bakar non-subsidi, ada yang beralih karena disparitas," ungkapnya.

Diterangkan, perubahan pola konsumsi tersebut menjadi satu diantara faktor yang turut memberikan tekanan terhadap kebutuhan BBM bersubsidi. Perbedaan harga antarkomoditas BBM dinilai dapat mendorong sebagian konsumen melakukan peralihan jenis bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan mereka.

Wilson juga mengaitkan perubahan tersebut dengan adanya penyesuaian harga BBM yang berlaku pada mulai awal September 2026. Kondisi itu dinilai berpotensi memengaruhi sebagian masyarakat dalam memilih jenis BBM yang digunakan.

"Sebagaimana diketahui bahwa pertanggal 1 September kemarin juga ada penyesuaian harga sehingga mungkin masyarakat yang tadinya menggunakan Dexlite ada yang beralilah ke Solar," terangnya.

Dengan demikian, Pertamina terus berupaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan BBM dan kebutuhan masyarakat. Penguatan distribusi menjadi penting agar peningkatan konsumsi tidak menimbulkan gangguan pelayanan maupun antrean berkepanjangan di SPBU.

"Terkait dengan penyaluran ini kami terus melakukan koordinasi bukan hanya di tingkat provinsi tapi juga tingkat kabupaten kota. Karena 12 kabupaten kota juga harus kita lihat bagaimana penyaluran BBM ini bisa berlangsung," pungkasnya. ***

Terkini