Pacu Jalur Bawa Berkah Ekonomi, UMKM hingga Penginapan di Kuansing Ikut Bergeliat

Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:34:13 WIB

MIMBARRIAU.COM  – Derap ekonomi ikut bergerak ketika Festival Pacu Jalur digelar di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau. Ramainya pengunjung tidak hanya menghidupkan arena perlombaan, tetapi juga membawa dampak bagi UMKM, jasa transportasi, penginapan, hingga rumah warga yang beralih fungsi sementara menjadi homestay.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengatakan peningkatan kunjungan masyarakat dari berbagai daerah selama Pacu Jalur secara langsung mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.

“Kalau ada event seperti ini, UMKM meningkat, hotel dan penginapan penuh. Bahkan karena event ini, banyak rumah warga yang disulap menjadi homestay,” kata SF Hariyanto di sela Festival Pacu Jalur Tradisional di Taman Jalur Kuansing, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan Pacu Jalur telah berkembang melampaui fungsinya sebagai perlombaan tradisional. Festival itu kini menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus daya tarik wisata Riau.

“Ini memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kita sangat mendukung kegiatan ini,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, lanjut SF Hariyanto, akan terus mendorong penyelenggaraan Pacu Jalur agar memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas. Geliat ekonomi selama festival diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha lokal.

Dampak terhadap ekonomi masyarakat juga menjadi salah satu alasan pemerintah terus memperkuat penyelenggaraan Pacu Jalur dengan tetap menjaga akar tradisi dan nilai budaya masyarakat Kuantan Singingi.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Muradi, mengatakan Pacu Jalur merupakan tradisi masyarakat setempat yang telah berkembang sejak awal 1900-an.

Pacu Jalur juga telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Jauh sebelum berkembang menjadi festival besar, jalur merupakan perahu panjang yang digunakan masyarakat di sepanjang Sungai Batang Kuantan sebagai sarana transportasi, termasuk untuk membawa hasil bumi dan hasil hutan.

Seiring perkembangan masyarakat, perahu tersebut kemudian digunakan dalam perlombaan antarkampung. Pada masa awal, Pacu Jalur juga digelar untuk memeriahkan berbagai perayaan, termasuk hari besar Islam.

Tradisi tersebut mengalami perubahan pada masa penjajahan Belanda. Pacu Jalur kala itu dijadikan bagian dari perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang jatuh pada 31 Agustus.

Setelah Indonesia merdeka, tujuan penyelenggaraannya kembali berubah. Pacu Jalur kemudian digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus.

Tradisi yang semula berlangsung di kampung-kampung sepanjang Sungai Kuantan itu kemudian berkembang menjadi festival besar yang dipusatkan di kawasan Teluk Kuantan.

“Pada perkembangannya, Pacu Jalur tidak lagi hanya menjadi hiburan masyarakat lokal. Event tersebut berkembang menjadi salah satu ikon wisata budaya Riau dan masuk dalam kalender pariwisata nasional,” papar Muradi.

Dari Tradisi Rakyat Menjadi Magnet Wisata

Pacu Jalur kini identik dengan perahu kayu panjang yang dikayuh puluhan anak pacu. Jalur dari berbagai daerah beradu kecepatan di Sungai Batang Kuantan dengan disaksikan masyarakat yang memadati tepian sungai.

Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi mencatat festival tersebut digelar setiap tahun pada Agustus serta melibatkan ratusan jalur dan ribuan atlet dayung. Festival juga menarik kedatangan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Besarnya arus kunjungan membuat manfaat Pacu Jalur menjangkau berbagai sektor ekonomi. Kebutuhan pengunjung terhadap makanan dan minuman, transportasi, penginapan, cendera mata, serta berbagai layanan lainnya membuka peluang bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Perkembangan tersebut memperlihatkan dua sisi Pacu Jalur yang berjalan beriringan, yakni sebagai warisan budaya yang terus dijaga sekaligus magnet wisata yang menggerakkan perekonomian masyarakat Kuantan Singingi.**

Terkini