JAKARTA - Harga kedelai mengalami kenaikan Rp 90 ribu per kuintal dari Rp 1,1 juta menjadi Rp 1,19 juta per kuintal. Perajin tempe mengaku harus menekan keuntungan dan melakukan penyesuaian barang dagangan demi mempertahankan harga jual tetap stabil.
Salah satu perajin tempe usaha rumahan di Jakarta Selatan, Ahmad Fatihin mengatakan bahwa kenaikan harga bahan baku mulai terasa tahun ini. Namun, ia masih berupaya mempertahankan harga jual agar pelanggan tidak beralih ke penjual lain.
“Masih bisa dikatakan stabil, sih. Cuma tahun ini sedikit berasa karena semua pada naik semua dari bahan bakunya,” kata Fatihin, Kamis (8/10).

Menurut Fatihin, salah satu cara yang dilakukan untuk menjaga harga jual tempe tetap stabil adalah dengan mengurangi ukuran tempe.
“(Harga) masih bertahan karena pelanggan takutnya mereka jadi lari. Paling kita dengan cara mengecilkan baloknya (tempe),” ujarnya.
Selain harga kedelai yang naik, Fatihin mengungkapkan harga plastik yang naik juga berdampak pada biaya produksi. Plastik menurutnya mengalami kenaikan hingga sebesar Rp 13 ribu.
“Kita dulu beli, kan, Rp 35 ribu, sekarang bisa sampai Rp 48 ribu. Kalau menurut kita itu bukan naik lagi, banting harga,” ungkapnya. Bahkan, Fatihin mengatakan harga plastik pada satu titik pernah menyentuh angka Rp 50 ribu.
Bukan hanya Fatihin, perajin tempe lainnya, Karsiti, juga mengeluhkan harga kedelai yang terus mengalami kenaikan sejak Maret.
“Dari habis lebaran itu naik, naik, turun. Nanti naik lagi. Ini malah naik, naik terus,” tutur Karsiti yang telah menjadi perajin tempe selama 20 tahun.
Kenaikan harga ini mendorong Karsiti untuk turut menaikkan harga jual tempenya. Namun, ia mengaku banyak yang harus dipertimbangkan ketika hendak menaikkan harga jual, misalnya risiko kehilangan pembeli.
“Naik Rp 1 ribu aja kadang-kadang pada teriak. Tahu-tahu pindah ke yang lain. Bingung, jadi keuntungannya sedikit,” ujar Karsiti.
Merespons kenaikan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama tempe tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso pada Selasa (6/10) menyebut pemerintah tengah menyiapkan langkah untuk membantu meringankan beban para perajin.
Budi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk segera menggelar rapat guna membahas opsi intervensi.
Salah satu skema yang kembali dipertimbangkan adalah pemberian subsidi kedelai, seperti yang pernah dilakukan pada masa-masa sebelumnya. ***