MimbarRiau.com - Ketua Umum Komunitas Sedekah Jumat (KSJ) Saharuddin, melontarkan sindiran keras dan menohok kepada filsuf yang kini disebut-sebut masuk lingkaran kekuasaan, Rocky Gerung, Senin (5/10/2026).
Jika dulu Rocky dikenal sebagai oposisi garis keras yang menggonggong dari luar pagar istana, kini Rocky disebut berada di dalam. Saharuddin pun berharap gonggongan itu tidak berubah menjadi anggukan.
"Semoga Rocky Gerung ebih bermanfaat dari dalam pemerintahan," ujar Saharuddin, Minggu (4/10/2026), dengan nada satire.
Saharuddin mengenang pertemuannya dengan Rocky Gerung pada 2019 silam di sebuah kafe Bandara Lampung, saat keduanya hendak terbang ke Jakarta. Dalam obrolan kebangsaan yang panas saat itu, terlontar istilah klasik yang sudah lama hilang dari kamus politik Indonesia, Komprador.
"Wah, istilah ini sudah lama tidak kedengaran, Har," kata Saharuddin menirukan gaya dan tawa khas Rocky Gerung saat itu.
Kini, tujuh tahun berlalu, istilah komprador itu kembali relevan. Justru menurut Saharuddin, dengan posisi Rocky yang kini berada di dalam pemerintahan, ia akan lebih dekat melihat langsung para komprador yang dulu sering ia kritik dari luar.
"Saya sependapat dengan Bung. Semoga Rocky dapat lebih bermanfaat dengan posisinya di dalam pemerintahan, lebih dekat dengan para komprador dan lebih mudah mengatasi berbagai problem serta dinamika Republik," tegas Saharuddin.
Saharuddin menitipkan pesan reflektif yang viral dan penuh makna. "Selamat menggonggong dari dalam, Bung RG, Wantimpres," ujarnya.
Pesan ini menjadi tamparan moral. Selama ini Rocky Gerung membangun citra sebagai penjaga akal sehat, kritikus yang tidak bisa dibeli. Kini publik menunggu, apakah akal sehat itu masih menggonggong kencang dari dalam Istana atau justru jinak karena sudah diberi makan dari dalam.
Saharuddin menegaskan, perbedaan posisi seharusnya tidak mematikan sikap kritis. Justru berada di dalam pusat pengambilan kebijakan adalah ujian sejati: berani tidak menyampaikan kebenaran di depan penguasa, bukan hanya berani berteriak di depan kamera.
"Jangan sampai yang dulu diteriaki komprador, sekarang malah jadi teman ngopi di dalam. Rakyat butuh bukti, bukan sekadar retorika filsafat," pungkas Saharuddin.
Publik kini menanti, apakah Rocky Gerung akan benar-benar menjadi Wantimpres yang bermanfaat untuk rakyat, atau hanya menjadi stempel akademik untuk kekuasaan. **