PEKANBARU - Perjalanan Edy Natar Nasution dari tanah kelahirannya di Bengkalis hingga mengemban amanah dalam pemerintahan dituangkan dalam autobiografi yang diluncurkan dan dibedah di Pekanbaru. Buku tersebut menjadi catatan perjalanan hidup sekaligus refleksi tentang nilai agama, kepemimpinan dan upaya menjaga marwah Melayu.
Peluncuran dan bedah buku autobiografi Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, S.I.P. berlangsung di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Minggu (27/9/2026). Sejumlah pengalaman yang dilalui Edy selama bertugas di lingkungan militer maupun pemerintahan dituangkan sebagai bagian dari perjalanan pengabdian.
Dalam acara tersebut, Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau Helmi D mengatakan perjalanan Edy Natar Nasution menunjukkan keterkaitan antara kepemimpinan, kehidupan religius dan nilai sosial kemasyarakatan yang tumbuh sejak masa kecil.
“Yang kita lihat dalam perjalanan beliau adalah kepemimpinan yang berakar pada nilai agama dan sosial, yang telah tumbuh sejak masa kecil ketika beliau menempuh pendidikan di Bengkalis,” tuturnya.
Menurut Helmi, nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk pengabdian, termasuk ketika Edy Natar Nasution mengemban amanah di pemerintahan. Salah satunya melalui Gerakan Salat Subuh Berjamaah yang diarahkan untuk menghidupkan masjid dan memperkuat syiar Islam di tengah masyarakat.
“Gerakan Salat Subuh Berjamaah bukan sekadar program kerja, tetapi menjadi salah satu bentuk upaya membangun daerah dengan nilai keberkahan dan mengajak masyarakat kembali meramaikan masjid,” katanya.
Nilai agama tersebut juga menjadi bagian dari cara Edy memandang identitas masyarakat Melayu. Menurutnya, marwah Melayu tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dijaga melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Marwah Melayu itu hanya bisa dipertahankan dan dibela oleh kita sendiri yang ada di tanah Melayu, sehingga berbagai cara kepemimpinan yang saya lakukan saya orientasikan untuk menjaga marwah di tanah Melayu,” jelas Edy Natar.
Ia juga mengungkapkan dua pesan dari mendiang ayahnya yang terus menjadi pegangan sepanjang perjalanan hidupnya, yakni tidak meninggalkan salat dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak.
Pesan tersebut, katanya, menjadi landasan moral yang dibawa baik ketika bertugas sebagai prajurit maupun saat menjalankan amanah di pemerintahan.
“Jangan pernah meninggalkan salat dalam situasi seperti apa pun dan jangan pernah mengambil yang bukan hak, karena dua hal inilah yang harus dijaga di bumi Melayu,” tuturnya. ***