Pemred Tribun Pekanbaru Erwin Ardian Soroti Disrupsi Digital Industri Pers

Rabu, 16 September 2026 | 08:46:49 WIB
Foto ilustrasi (Akal Imitasi) Gemini

PEKANBARU - Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian menyerukan pentingnya adaptasi teknologi serta kolaborasi antarmedia untuk menghadapi disrupsi digital di Provinsi Riau. Imbauan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk "Tantangan dan Masa Depan Pers Riau" yang diselenggarakan PWI di Gedung PWI Riau, Pekanbaru, pada Selasa (15/9/2026).

Erwin yang berkarir di dunia wartawan sejak awal 2000-an menyoroti transformasi proses produksi berita dari sistem analog ke era digital. Perubahan teknologi membuat proses pengiriman konten berita dan foto dari lapangan menuju ruang redaksi menjadi lebih cepat.

“Dulu kita harus mencetak foto terlebih dahulu, kemudian bolak-balik mengirimkannya. Sekarang, dengan satu klik saja semuanya sudah sampai,” kata Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru Erwin Ardian pada Selasa (15/9/2026).

Erwin membeberkan bahwa pergeseran perilaku pembaca berimbas langsung pada ketimpangan distribusi pendapatan iklan industri media. Sekitar 80 persen potensi iklan saat ini dikuasai oleh platform digital raksasa seperti Google, YouTube, dan Facebook.

“Kenyataannya, iklan yang ada saat ini sebagian besar masuk ke platform tersebut. Sementara media yang bersusah payah membuat konten hanya mendapatkan porsi kecil,” ujar Erwin.

Selain dominasi platform global, kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini telah menjadi bagian dari operasional harian di ruang redaksi. Erwin menilai pengadopsian teknologi AI merupakan sebuah keharusan agar industri media massa tidak tertinggal.

Guna mempertahankan eksistensi media arus utama, Erwin mendorong penguatan kolaborasi serta penghentian persaingan tidak sehat antarperusahaan pers lokal. Media massa dinilai menghadapi kompetitor utama yang sama, yaitu platform media sosial.

“Media mainstream saat ini menghadapi kompetitor yang sama, yaitu media sosial. Jika kita sibuk bersaing sendiri, kita akan jatuh bersama,” kata Erwin.

Erwin menekankan bahwa jurnalisme investigasi dan liputan mendalam menjadi keunggulan utama yang tidak dapat digantikan oleh media sosial. Potensi geografis Riau seperti industri kelapa sawit dan kedekatan wilayah dengan Malaysia serta Singapura dapat diolah menjadi liputan eksklusif.

Diskusi pers yang diinisiasi oleh PWI Riau ini dihadiri oleh puluhan wartawan dan pengelola media massa dari berbagai daerah. Erwin menegaskan integritas serta penyajian informasi publik yang tepercaya tetap menjadi benteng utama media profesional. ***

Terkini