MBARRIAU.COM - Mengonsumsi minuman manis secara berlebihan bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kanker lambung, menurut temuan sebuah studi kesehatan.
Sejauh ini beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker lambung seperti infeksi bakteri H. pylori, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, usia lanjut, dan jenis kelamin laki-laki menurut siaran Eating Well, Kamis (27/8).
Dalam sebuah studi baru yang hasilnya dipublikasikan di Gastro Hep Advances, ditemukan bahwa orang yang minum setidaknya satu minuman dengan pemanis tambahan per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi daripada mereka yang sangat jarang meminumnya.
Pola ini ditemukan pada wanita dan pria, di mana risikonya lebih tinggi tiga kali lipat pada wanita dan dua kali lipat pada pria. Para peneliti juga memeriksa apakah infeksi bakteri H. pylori dapat menjelaskan hubungan tersebut, karena bakteri tersebut merupakan faktor risiko yang sudah mapan.
Para peneliti menemukan bahwa hubungan antara kanker lambung dan asupan minuman berpemanis tambahan tidak terkait dengan infeksi H. pylori. Minuman yang dimaniskan secara buatan tidak dikaitkan dengan risiko kanker lambung yang lebih tinggi seperti teh dan soda diet.
Terakhir, tim tersebut meneliti fruktosa, pemanis utama dalam minuman. Asupan fruktosa yang lebih tinggi dikaitkan secara positif dengan kanker lambung pada seluruh kelompok dan di antara wanita, menambahkan satu benang merah lagi pada cerita ini.
Para peneliti menggunakan dua studi kesehatan terlama di Amerika Serikat yakni "Nurses Health Study" dan "Health Professionals Follow-up Study". Proyek-proyek ini telah melacak pola makan dan kesehatan puluhan ribu warga Amerika selama beberapa dekade.
Tim melibatkan 112.284 peserta dan mendokumentasikan sebanyak 278 kasus kanker lambung. Peserta mengisi kuesioner frekuensi makanan terperinci setiap empat tahun, melaporkan seberapa sering mereka mengonsumsi minuman tertentu.
Partisipan juga menjawab pertanyaan tentang gaya hidup, riwayat medis, dan pembaruan kesehatan lainnya setiap dua tahun.
Para peneliti mengelompokkan minuman menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ialah minuman dengan pemanis tambahan termasuk minuman berkarbonasi, punch, limun, dan minuman olahraga.
Kelompok kedua ialah minuman dengan pemanis buatan, termasuk minuman berkarbonasi rendah kalori. Asupan dikelompokkan ke dalam kategori mulai dari kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi per hari, dengan ukuran porsi ditetapkan pada 8 ons.
Ketika seorang peserta melaporkan diagnosis kanker lambung, para peneliti mengonfirmasinya menggunakan catatan medis atau registri kanker jika memungkinkan. Analisis ini disesuaikan dengan faktor risiko kanker lambung lainnya yang diketahui, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan, untuk membantu mengisolasi peran minuman.
Meski demikian, para peneliti menyerukan untuk melakukan penelitian lebih lanjut karena studi yang dilakukan masih bersifat observasional. Peserta yang ikut pun sebagian besar adalah tenaga kesehatan kulit putih yang pertama kali terdaftar sebagai orang dewasa antara usia 30 dan 75 tahun.
Hal ini menyulitkan untuk mengetahui apakah temuan tersebut berlaku untuk orang-orang dari latar belakang ras dan etnis lain atau untuk orang dewasa yang lebih muda.
Walaupun diikuti lebih dari 100.000 partisipan, jumlah total kasus kanker lambung relatif kecil. Jumlah kasus yang lebih kecil dapat membuat perkiraan kurang tepat. *