Karhutla Kerumutan: Alat Berat Dikerahkan Bangun Parit Gajah

Ahad, 23 Agustus 2026 | 21:57:19 WIB

MIMBARRIAU.COM  - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kerumutan Kabupaten Pelalawan terus meluas. Selain menambah bantuan personil tim gabungan, peralatan alat berat juga diturunkan ke lokasi. 

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edy Afrizal, alat berat tersebut dikerahkan untuk membuat parit gajah di sekitaran areal terbakar guna memblokir nyala api. 

"Untuk memblokir api," kata Edy, Ahad (23/8/26). 

Saat ini lanjut Edy, 6 enam unit alat berat telah dikerahkan di lokasi karhutla. Dalam waktu dekat direncanakan akan ada tambahan sebanyak 15 unit alat berat lagi dikerahkan ke Kerumutan. 

"Tujuanya untuk  mempercepat pembuatan parit gajah di sekitar kawasan yang terbakar," ujar Edy lagi.

Parit gajah ini selain untuk memblokir pergerakan api, nantinya juga bisa menjadi sumber air untuk membantu proses pemadaman. Pasalnya, salah satu kendala pemadaman karhutla di Kerumutan, karena minimnya sumber air. 

Ha ini dipicu musim kemarau panjang (el nino) yang saat ini melanda Riau. Tanah gambut yang kering menyebabkan api tak hanya membakar di areal permukaan, tetapi sampai ke bawah permukaan. 

"Inilah salah satu fungsi alat berat membuat parit gajah itu untuk memblokir api," ungkap Edy. 

Seperti diberitakan sebelumnya, untuk memaksimalkan pemadaman karhutla di Kerumutan Pelalawan, telah dikerahkan penambahan personel gabungan. Yakbi sebanyak 15 personel dari BPBD dam Damkar Riau sudah berada di lokasi Karhutla. Kemudian Manggala Agni mengirimkan dua regu ke lokasi.

Sebanyak 12 personel berasal dari Daops Rengat dan 13 personel merupakan regu BKO Daops Siak. Kemudian ada juga satu regu dari Daops Rengat sebanyak 12 orang. Selain itu, ada 30 personel dari Polda Riau, 20 personel dari Kodam. 

Tambahan para personil gabungan tersebut akan bersatu pada dengan tim darat yang terlebih dahulu bertukus lumus melakukan pemadaman karhutla di Kerumutan Pelalawan. 

Tim gabungan tersebut terdiri dari TNI, Polri, BPBD Riau, BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, serta unsur terkait lainnya terus melakukan upaya pemadaman.

Edi menjelaskan, proses pemadaman di lapangan menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya angin kencang yang membuat api mudah menyebar dan menyulitkan petugas mengendalikan kobaran api.

Selain itu, kondisi vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan yang masih cukup rapat turut memperbesar tantangan pemadaman. Sumber air juga sulit ditemukan, sementara lokasi kebakaran berada cukup jauh dari akses darat.

“Kesulitan kita memadamkan api karena anginnya kencang. Kemudian di lokasi banyak semak belukar dan pepohonan, sumber air juga sulit. Akses menuju lokasi cukup jauh, sekitar 500 meter dari akses yang bisa dilalui kendaraan,” jelas Edi.

Bahkan, kendaraan roda empat tidak dapat mencapai titik kebakaran. Petugas terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menjangkau lokasi.

Selain pemadaman melalui jalur darat, penanganan karhutla di Kerumutan juga diperkuat melalui operasi udara. Hari ini, sebanyak empat helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air ke titik-titik kebakaran.

Namun, Edi mengakui, operasi water bombing belum dapat memadamkan seluruh areal yang terbakar. Helikopter lebih efektif untuk menekan dan memblokir bagian kepala api agar tidak semakin meluas.

“Water bombing memang bisa kita gunakan untuk memblokir kepala api. Tetapi untuk memadamkan seluruh api cukup sulit karena dipengaruhi angin dan kondisi lahan,” paparnya.

Kondisi lahan gambut yang kering juga menjadi persoalan tersendiri. Api yang terlihat padam dari udara belum tentu benar-benar mati karena bara api dapat tetap menyala di bawah permukaan gambut.

“Sekarang kondisi lahan gambut sangat kering. Ketika kita lakukan water bombing dan dari atas terlihat api sudah padam, sebenarnya di dalam gambut masih bisa terdapat bara api yang menyala,” ungkapnya

Dengan penambahan, alat berat, personil gabungan serta dukungan helikopter water bombing, tim gabungan diharapkan luasan karhutla di Kerumutan dapat segera dikendalikan dengan cepat. **

Terkini