Menteri PU Bakal Resmikan Irigasi Rp 80 M di Kuansing

Selasa, 04 Agustus 2026 | 16:19:29 WIB
Plt Bupati Kuansing, Muklisin bersama Pj Sekda Muradi mendampingi Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU Arnold Aristoteles di Desa Pulau Komang, Kecamatan Sentajo Raya, Senin (3/8/2026).

MIMBARRIAU.COM  - Upaya Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, mengejar target swasembada pangan pada 2029 mendapat suntikan infrastruktur.

Menteri Pekerjaan Umum RI Dody Hanggodo dijadwalkan berkunjung ke Kuansing pada 7 Agustus 2026 untuk meresmikan Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (DI) Rawa Sawah di Desa Pulau Komang, Kecamatan Sentajo Raya.

Namun, di balik pembangunan infrastruktur irigasi bernilai puluhan miliar rupiah itu, Kuansing masih menghadapi persoalan mendasar, sawah tersedia, tetapi petani semakin minim.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan serius pemerintah daerah untuk mengubah potensi lahan pertanian menjadi kekuatan pangan daerah.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing, Muklisin, mengatakan persiapan kedatangan Menteri PU terus dimatangkan.

Bahkan, ia bersama Penjabat (Pj) Sekda Kuansing Muradi telah menerima kunjungan Dirjen Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU Arnold Aristoteles untuk melakukan monitoring dan evaluasi sekaligus memastikan kesiapan agenda peresmian.

"Persiapan terus kita matangkan. Hari Minggu kemarin saya bersama Pj Sekda Muradi juga telah menerima Dirjen SDA Kementerian PU, Bapak Arnold Aristoteles, untuk Monev dan persiapan peresmian," kata Muklisin, Senin (3/8/2026).

Pembangunan jaringan irigasi tersebut merupakan bagian dari program Instruksi Presiden (Inpres) 2025 dengan total nilai mencapai Rp 80 miliar.

Di Kuansing, program tersebut tidak hanya menyasar satu lokasi.

Sebanyak tujuh titik rehabilitasi irigasi dan 39 titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dibangun dan tersebar di sejumlah kecamatan.

Infrastruktur tersebut diharapkan mampu memperkuat fondasi produksi pertanian Kuansing.

Sebab, persoalan pangan bukan hanya soal berapa luas sawah yang dimiliki, tetapi juga bagaimana memastikan lahan tersebut terus produktif dan mampu menghasilkan beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Targetnya pun cukup besar. Pemkab Kuansing menargetkan swasembada pangan pada 2029.

Masalahnya, kondisi produksi beras lokal saat ini masih jauh dari kebutuhan masyarakat.

Dari sekitar 6.000 hektare sawah, produksi padi Kuansing baru berada di kisaran 16 ribu ton per tahun.

Sementara kebutuhan beras masyarakat mencapai sekitar 31 ribu ton per tahun.

"Artinya, terdapat kesenjangan produksi yang cukup lebar. Kuansing masih harus menutup kekurangan kebutuhan tersebut melalui pasokan beras dari Bulog maupun daerah tetangga," ujar Muklisin.

Persoalan itu semakin kompleks karena tidak seluruh lahan sawah yang tersedia mampu dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Muklisin, minimnya jumlah petani menjadi salah satu persoalan yang membuat sejumlah sawah terbengkalai.

"Minimnya petani membuat banyak sawah yang terbengkalai. Hal itu menjadi kendala kita untuk mengejar target swasembada," ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan irigasi saja tidak otomatis menyelesaikan persoalan pangan.

Saluran air yang dibangun dengan anggaran besar membutuhkan petani yang menggarap lahan, mengelola produksi, hingga memastikan hasil panen tetap berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah daerah kini dituntut tidak hanya memperkuat infrastruktur pertanian, tetapi juga menyiapkan regenerasi petani. Salah satu strategi yang didorong adalah pemberdayaan generasi muda melalui Brigade Pangan.

Muklisin berharap kebijakan perlindungan terhadap lahan pertanian serta keterlibatan generasi muda dapat menjadi titik balik bagi sektor pangan Kuansing.

"Dengan perlindungan regulatif dan pemberdayaan generasi muda lewat Brigade Pangan, saya berharap kedaulatan pangan Kuansing bisa terwujud dan sawah tetap lestari," ujarnya. **

Terkini