Dibalik Layar 18 Tahun Menulis: Saleh Djasit Luncurkan Karya Monumental di LAM Riau

Kamis, 16 April 2026 | 07:02:38 WIB

PEKANBARU – Suasana khidmat nan kental dengan nuansa adat menyelimuti Balai Adat Melayu Riau. 

Alunan musik instrumental Melayu menyambut hangat kehadiran para tokoh penting, mulai dari mantan Gubernur Riau seperti Wan Abu Bakar, Wan Thamrin, Syamsuar, hingga Andi Rahman. 

Tak ketinggalan, tokoh masyarakat dan jajaran Forkopimda se-Riau turut hadir memberikan penghormatan.

Acara dibuka dengan anggun oleh Pebilang Puan Siti Salmah, yang kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Sabri Fazil, SH dan saritilawah oleh Fauziah Maharani. 

Keheningan semakin terasa syahdu saat Puan Siska Armiza membacakan syair Melayu di hadapan para tamu undangan, membawa jiwa pada akar budaya yang kuat.

Ketua Umum DPH LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, dalam sambutannya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Saleh Djasit. 

Menurutnya, Saleh Djasit bukan sekadar pemimpin, melainkan peletak dasar yang menempatkan adat dan budaya Melayu sebagai pilar utama pembangunan Riau.

"Visi Riau sebagai pusat budaya Melayu Asia Tenggara yang dirintis pada masa kepemimpinan beliau tetap menjadi kompas pembangunan kita hingga hari ini," ujar Datuk Seri Taufik. 

Ia juga memuji kegigihan Saleh Djasit yang tetap produktif menulis di usia senja, sebuah teladan literasi yang inspiratif.

Dalam sesi "Sekapur Sirih", Saleh Djasit membagikan kisah emosional di balik bukunya. Ia mengungkapkan bahwa proses kreatif penulisan ini telah dimulai sejak tahun 2008. 

Butuh waktu 18 tahun, ketekunan tiga editor, serta dorongan semangat dari almarhum Chaidir yang juga menyumbangkan kata pengantar hingga buku ini akhirnya rampung.

"Buku ini adalah ikhtiar saya untuk menjadi referensi bagi keluarga dan masyarakat, sekaligus meluruskan kembali catatan perjalanan hidup saya," ungkap Saleh Djasit tulus.

Puncak acara ditandai dengan prosesi adat arak-arakan buku dan tepuk tepung tawar yang diiringi tabuhan gendang panjang dan nafiri yang megah. 

Sebagai penutup yang manis, dilakukan penandatanganan sampul buku, penyerahan sertifikat kepada para pemberi testimoni, serta penayangan videografi yang merangkum perjalanan panjang lahirnya karya literasi tersebut. **

Terkini